Showing posts with label Jantung. Show all posts
Showing posts with label Jantung. Show all posts

Wednesday, November 16, 2011

Mandi air panas bisa bikin gagal jantung?

Mandi air panas bisa bikin gagal jantung? - Berendam di air panas saat cuaca dingin memang nyaman. Berdasar studi terbaru, kebiasaan ini bisa berujung fatal. Gagal jantung mengintai pemilik kebiasaan ini.

Studi tim peneliti yang dipimpim Chika Nishiyama dari Kyoto Prefectural University of Medicine School of Nursing ini mengungkapkan, kasus gagal jantung saat mandi meningkat 10 kali lipat di musim dingin dibandingkan musim panas.

Fakta ini penting bagi masyarakat Jepang, mengingat sebagian besar penduduknya senang mandi air panas selama berjam-jam guna menenangkan diri setelah sibuk beraktifitas.

Di Jepang, banyak orang berlama-lama mandi air panas karena rumah tradisional Jepang tak tertutup dengan baik layaknya rumah di Barat. "Selain itu, alat pemanas yang ada jarang digunakan," papar Nishiyama. Seperti dikutip Straits Times.

Nishiyama dan tim menggunakan data 11.000 kasus gagal jantung 2005-2007 di prefektur Osaka barat sebagai dasar studi. Berdasarkan data itu, 22% kasus terjadi dalam keadaan tidur dan 9% saat sedang mandi. Sekitar 3% mengalami gagal jantung saat beraktivitas kerja dan 0,5% saat sedang berolahraga.Diketahui, sebanyak 54 kasus gagal jantung pada 10 juta orang terjadi saat sedang berendam. Kemudian, 10 kasus dari 10 juta orang terjadi saat berolahraga.
Baca Selengkapnya - Mandi air panas bisa bikin gagal jantung?

Friday, May 20, 2011

Aktivitas Sehari-hari yang Memicu Serangan Jantung

serangan jantung

Menurut sebuah studi terbaru, hampir semua aktivitas sehari-hari dapat memicu serangan jantung bagi yang punya risiko. Mulai dari minum kopi, berhubungan seks atau sekedar merasa sedih. Manakah yang paling banyak memicu serangan jantung?

Penelitian para ahli dari Hasselt University di Diepenbeek, Belgia ini mengungkap serangan jantung paling banyak dipicu polusi udara yakni 7,4 persen. Tingkat polusi udara di Eropa memang tinggi, sehingga dampaknya bisa dirasakan semua orang termasuk penderita sakit jantung.

Yang mengejutkan adalah, hubungan seks juga masuk dalam daftar pemicu serangan jantung meski kontribusinya sangat kecil yakni hanya 2,2 persen. Ganja dan kokain yang tergolong obat terlarang malah hanya memicu 1 persen serangan jantung.

Selengkapnya, berikut ini adalah berbagai pemicu serangan jantung berdasarkan penelitian tersebut.















































PemicuPersentase (%)
Polusi udara7,4
Aktivitas fisik yang berlebihan6,2
Minum kopi5
Minum minuman beralkohol5
Emosi negatif (sedih, dll)4
Marah3
Makan berlebihan2,7
Emosi positif (gembira, dll)2,4
Berhubungan seks2,2
Konsumsi ganja/kokain1

Menurut Prof Tim S Nawrot yang memimpin penelitian tersebut, angka-angka di atas tidak menunjukkan besarnya peningkatan risiko sesungguhnya. Misalnya peningkatan risikonya serangan jantung akibat penggunaan kokain sebenarnya lebih besar dibandingkan polusi udara, namun karena pengguna kokain tidak terlalu banyak dibandingkan orang yang terkena polusi maka hanya sedikit yang mengalami serangan jantung karena kokain.

"Peningkatan risiko sekecil apapun, misalnya karena polusi udara, bisa berdampak besar jika dampaknya sangat luas di suatu populasi," ungkap Prof Nawrot seperti dikutip HealthDay, Kamis (24/2/2011).

Tingginya kasus serangan jantung akibat polusi udara menunjukkan betapa sangat memprihatinkannya tingkat pencemaran saat ini. Salah satu solusinya adalah memberlakukan larangan merokok di tempat umum, yang diklaim bisa menekan jumlah kasus serangan jantung hingga 17 persen.
Baca Selengkapnya - Aktivitas Sehari-hari yang Memicu Serangan Jantung

Serangan Jantung di Pagi Hari Lebih Mematikan

attack

Risiko kematian selalu tinggi ketika terjadi serangan jantung. Namun jika terjadi pada pagi hari, serangan jantung 20 persen lebih berisiko memicu kematian dibandingkan serangan jantung yang terjadi di waktu-waktu lain sepanjang hari.

Berbagai penelitian sebelumnya memang menunjukkan bahwa serangan jantung lebih sering terjadi pada pagi hari. Meski begitu, belum ada yang membandingkan risiko kematian akibat serangan jantung yang terjadi pada waktu-waktu tertentu termasuk di pagi hari.

Baru-baru ini, para peneliti dari National Center of Cardiovascular Disease di Spanyol berhasil mengaitkan risiko kematian dengan waktu terjadinya serangan jantung. Serangan jantung yang terjadi antara pukul 6 pagi hingga tengah hari paling mematikan dibandingkan pada waktu lainnya.

Peningkatan risiko kematian pada serangan jantung yang terjadi di pagi hari cukup tinggi, yakni seitar 20 persen. Diduga, pemicunya adalah sistem hormonal dan metabolisme yang mengalami peningkatan aktivitas pada pagi hari setelah bangun tidur.

Peningkatan tekanan darah di pagi hari juga diyakini juga ikut mempengaruhi meski pendapat ini masih kontroversial. Sebab penelitian terbaru di Harvard Medical School menunjukkan, jam biologis manusia justru membuat tekanan darah turun ke titik terendah pada pagi hari.

Penelitian tersebut melibatkan 811 pasien serangan jantung yang dirawat di berbagai rumah sakit di kota Madrid, antara tahun 2003-2009. Dikutip dari Dailymail, Jumat (29/4/2011), sebagian besar partisipan mengalami infark myokardiak, yakni serangan jantung yang dipicu penyumbatan pembuluh darah yang berkepanjangan.

Sesuai dengan penelitian-penelitian terdahulu, sebagian besar partisipan yakni 269 orang mengalami serangan jantung antara pukul 6 pagi hingga tengah hari. Sisanya, 240 orang mengalaminya antara tengah hari hingga pukul 6 sore, 161 antara pukul 6 sore hingga tengah malam dan 141 antara tengah malam hingga pukul 6 pagi.
Baca Selengkapnya - Serangan Jantung di Pagi Hari Lebih Mematikan

Gampang Kaget Belum Tentu Tanda Jantungan

kaget

Orang yang gampang kagetan konon katanya punya gangguan pada jantung. Tapi benarkah gampang kaget tanda penyakit jantung?

"Gampang kagetan belum tentu karena jantung, karena ada orang yang kena jantung tapi dia tidak kagetan," ujar Dr dr Anwar Santoso, SpPD, FIHA, PhD disela-sela acara konferensi CardioMetabolic Conference 2011 di JCC, Jumat (30/4/2011).

Umumnya rasa kaget muncul karena orang tersebut tidak siap merasakan dan mengalami sesuatu atau mendengar suara yang keras secara tiba-tiba, sehingga tubuh menjadi kaget. Setiap orang memiliki respons kaget yang berbeda-beda tergantung pada batas toleransinya.

Ketika kaget biasanya disertai dengan tanda-tanda fisik lainnya seperti jantung berdebar-debar, detak jantung yang lebih keras dan cepat serta kadang napas yang pendek tapi cepat (memburu). Tapi bukan berarti hal tersebut menjadi gejala penyakit jantung.

Gangguan yang terjadi pada jantung bisa bermacam-macam misalnya otot jantung yang tidak mendapat suplai oksigen, irama jantung yang tidak teratur (aritmia), adanya kebocoran di jantung atau penyakit jantung bawaan, penyakit jantung hipertensi, penyakit jantung anemia, penyakit jantung tiroid.

"Masyarakat sebaiknya melakukan screening untuk mengetahui apakah tergolong risiko tinggi, sedang atau rendah. Untuk yang berisiko tinggi dan sedang harus dilakukan terapi dan pencegahan," ujar dokter yang berpraktik di RS Jantung Harapan Kita Jakarta.

Dr Anwar menuturkan penyakit kardiovaskular seperti jantung koroner dan stroke disebabkan oleh banyak faktor (multifaktor) dan bukan akibat faktor tunggal saja. Faktor-faktor tersebut ada yang bisa dimodifikasi salah satunya gaya hidup dan pola makan tapi ada juga yang tidak dimodifikasi seperti usia, genetik dan ras.

Untuk menghindari risiko penyakit jantung, mulailah melakukan pola hidup sehat seperti rutin melakukan aktivitas fisik yang siklusnya terus berputar seperti berjalan, sepeda, renang atau lari, serta melakukan pola makan sehat dengan menghindari makanan berlemak dan tinggi garam.
Baca Selengkapnya - Gampang Kaget Belum Tentu Tanda Jantungan

Yang Baik Buat Jantung, Baik Juga untuk Otak

otak jantung

Otak merupakan bagian yang penting dalam tubuh manusia. Berbagai kegiatan sederhana dapat menjaga otak tetap sehat, salah satunya kegiatan yang juga menjaga jantung. Apa yang baik untuk jantung juga baik untuk otak.

Hal-hal yang dapat menyebabkan penyakit jantung juga dapat mempengaruhi kerja dan kesehatan otak. Misalnya, plak dan kerusakan arteri yang dapat menyebabkan serangan jantung, juga dapat menyebabkan stroke.

Oleh karena itu, tindakan yang baik untuk jantung seperti mengontrol kolesterol dan tekanan darah, berolahraga, makan makanan sehat, yang bermanfaat untuk jantung tentu juga akan baik untuk otak.

"Gen dan kondisi tertentu dapat berperan dalam kehilangan memori, tumor otak, stroke dan gangguan otak lainnya," jelas Dr Keith L. Black, Ketua Departemen Bedah Saraf di Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles dan Direktur Institute Maxine Dunitz Neurosurgical, seperti dilansir Healthday, Senin (9/5/2011).

Tapi menurut Dr Black, kesehatan otak tidak sepenuhnya diluar kendali. Selain melakukan kegiatan yang dapat menyehatkan jantung, ada beberapa cara lain yang dapat mengurangi risiko penyakit dan cedera otak, antara lain:

1. Mengenakan helm
Mengenakan helm atau pelindung kepala saat berkendara (naik sepeda motor atau sepeda) atau saat olahraga tertentu dapat mencegah terjadinya kejadian atau kecelakaan yang tidak diinginkan, khususnya untuk bagian kepala seperti gegar otak bahkan cedera kepala serius. Hal ini tidak hanya berlaku untuk orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

2. Latihan untuk melatih otak
Otak bisa dilatih dengan melakukan teka-teki dan permainan atau aktivitas seperti membaca, belajar bahasa atau merajut. Penelitian menunjukkan latihan otak tersebut dapat membantu mencegah beberapa penurunan memori dan mencegah terjadinya dementia atau pikun.

3. Gaya hidup sehat
Makan makanan bergizi yang meliputi buah-buahan, sayuran, biji-bijian dan protein berkualitas tinggi juga dapat membuat otak tetap tajam dan sehat.

Selain itu, hindari alkohol, berhenti merokok, tidur yang cukup serta kontrol stres melalui relaksasi, meditasi atau olaharag juga dapat menjaga otak berfungsi dengan baik.

4. Pelajari gejala stroke dan segera cari pertolongan
Jangan terkecoh dengan anggapan bahwa stroke tak bisa menyerang orang di usia muda. 25 persen dari semua stroke terjadi pada orang muda yang kurang dari 65 tahun dan bahkan orang dewasa muda dan anak-anak dapat menderita stroke. Cara pengobatan yang cepat dapat membatasi penurunan fungsi otak yang permanen.

5. Gunakan headset atau speaker saat menggunakan ponsel
Sementara penelitian awal tidak menemukan bukti bahwa gelombang frekuensi radio dari ponsel meningkatkan risiko tumor otak, tapi Dr Black mengatakan pengaruhnya bisa menjadi bukti selama puluhan tahun. Maka cara terbaik untuk mencegahnya adalah berhati-hati dan sebaiknya gunakan headset atau speaker saat Anda berbicara via ponsel.
Baca Selengkapnya - Yang Baik Buat Jantung, Baik Juga untuk Otak

Ukuran Pinggang Lebih Akurat Prediksi Penyakit Jantung

pinggang

Ahli kesehatan telah sepakat bahwa obesitas (kegemukan) dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Tetapi ukuran pinggang ternyata lebih akurat untuk memprediksi kematian jantung ketimbang berat badan.

Beberapa studi telah menemukan bahwa indeks massa tubuh (BMI) berhubungan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya.

Namun menurut analisis baru dalam Journal of American College of Cardiology, ukuran pinggang menyediakan cara yang jauh lebih akurat untuk memprediksi kemungkinan pasien jantung meninggal pada usia dini karena serangan jantung atau penyebab lainnya.

Peneliti menemukan bahwa jantung pasien dengan rasio lingkar pinggang-panggul besar atau ukuran pinggang besar, lebih besar dari 35 inci (89 cm) untuk wanita atau 40 inci (101,6 cm) untuk laki-laki, 70 persen lebih mungkin meninggal dibandingkan pasien dengan pinggang yang lebih kecil.

Dan tentunya kombinasi pinggang besar dan BMI tinggi menaikkan risiko kematian bahkan menjadi lebih besar lagi.

"Yang paling penting adalah distribusi lemak, lebih dari apa pun," kata peneliti utama, Fransisco Lopez-Jimenez, MD, seorang ahli jantung di Mayo Clinic, di Rochester, Minnesota, seperti dilansir CNN, Selasa (3/5/2011).

Menurut Jean-Pierre Despres, Ph.D., direktur penelitian di Quebec Heart and Lung Institute di Laval University, di Quebec City, studi baru ini memberikan bukti lebih banyak tentang kekurangan BMI dalam menilai risiko jantung.

"Jika Anda mengukur BMI, Anda tidak menilai bentuk tubuh dan Anda tidak menilai distribusi lemak tubuh. Saya tidak mengatakan bahwa BMI tidak berguna, hanya saja kita perlu mengetahui bahwa BMI adalah total kolesterol dari lemak. Kita tahu bahwa ada kolesterol baik dan buruk, juga ada lemak baik dan buruk," kata Despres.

BMI juga tidak membedakan antara lemak dan otot, tambah Despres. Ia menjelaskan, jantung pasien yang menjalani gaya hidup mungkin akan mengalami penurunan BMI karena mereka kehilangan massa otot, sementara pasien penyakit jantung yang menjadi lebih aktif sebenarnya bisa menambah berat badan dan meningkatkan BMI karena mereka menambahkan massa otot.

Mengapa ukuran pinggang atau lemak perut lebih berbahaya?

Lemak di perut cenderung menjadi tanda lemak visceral atau lemak yang mengumpulkan sekitar organ di perut. Lemak ini dapat mempromosikan resistensi insulin dan kolesterol tidak sehat, dan juga dapat meningkatkan peradangan.

"Genetika memainkan peranan 'sangat kuat' untuk menentukan apakah berat badan menumpuk di sekitar pinggang," ujar Despres.
Baca Selengkapnya - Ukuran Pinggang Lebih Akurat Prediksi Penyakit Jantung

Gowes 32 Km Tiap Pekan Kurangi Risiko Sakit Jantung

gowes

Tak perlu diragukan lagi, mengendarai sepeda menuju tempat kerja banyak memberikan manfaat bagi kesehatan. Jika dalam sepekan bisa menempuh jarak 32 km, risiko untuk terkena stroke dan serangan jantung sudah berkurang hingga 50 persen.

Manfaat bersepeda dan olahraga aerobik lainnya bagi jantung sangat besar karena gerakan yang konstan bisa meningkatkan kebugaran sistem peredaran darah. Makin lancar aliran darah, makin ringan kerja jantung untuk memompanya ke seluruh tubuh.

British Medical Association mengatakan, hobi gowes atau mengendarai sepeda bisa meningkatkan kebugaran sistem kardiovaskular hingga rata-rata 3-7 persen. Dengan jarak tempuh sekitar 32 km/pekan, risiko untuk mengalami serangan jantung berkurang hingga 50 persen.

Angka ini diperoleh dari hasil penelitian terhadap 10.000 pegawai negeri di Inggris yang mengendarai sepeda saat berangkat dan pulang dari tempat kerja. Dikutip dari Medicalnewstoday, para partisipan memiliki jantung yang lebih sehat dibanding rekannya yang naik mobil pribadi.

Sementara dibandingkan olahraga aerobik lainnya seperti jogging atau lari pagi, gowes lebih aman bagi lutut dan tulang kaki karena tekanannya lebih kecil. Meski begitu, gowes mampu membakar 300 kalori/jam sehingga dalam setahun rata-rata bisa membakar lemak hingga 4,99 kg.

Manfaat gowes yang lain adalah mampu mengurangi selulit di daerah pangkal paha. Pasalnya selain membakar timbunan lemak di daerah tersebut, gerakan saat gowes juga bisa meningkatkan massa otot sehingga bisa mengencangkan jaringan kulit yang menggelambir.

Meski begitu, gowes sepeda setiap hari seringkali tidak mudah dilakukan terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Selain lalu lintasnya terlalu padat sehingga tidak menyisakan ruang bagi pengendara sepeda, polusi yang cukup tinggi juga bisa memicu risiko lain misalnya kanker.

Dengan alasan tersebut, kebanyakan pegowes hanya bisa leluasa melakukan hobinya pada akhir pekan ketika lalu lintas tidak terlalu padat. Sedangkan jika harus menggowes sepeda pada hari kerja, wajahnya harus ditutup masker agar tidak terlalu banyak menghirup polusi.
Baca Selengkapnya - Gowes 32 Km Tiap Pekan Kurangi Risiko Sakit Jantung

Thursday, May 19, 2011

Seberapa Tua Umur Jantung Anda?

patah hati

Tahukah Anda, bahwa usia sebenarnya dan usia jantung Anda tidaklah sama. Usia jantung bisa lebih tua atau lebih muda dari usia manusia sebenarnya. Ada 5 hal yang membuat jantung bisa berumur lebih tua dari umur yang sebenarnya.

Dr Nathaniel Reichek seorang ahli jantung seperti dilansir FoxNews, Selasa (29/3/2011) mengatakan usia jantung bisa lebih muda atau lebih tua dari umur yang sebenarnya tergantung dengan gaya hidup.

Penyakit jantung adalah satu penyakit yang paling mematikan dan WHO mencatat 12,5 juta dari 32 juta perkiraan serangan jantung yang terjadi di seluruh dunia berakibat fatal.

Dr Nathaniel mengatakan ada 5 faktor yang membuat usia jantung lebih tua dari usia Anda sebenarnya.

1. Kolesterol tinggi
Kebiasaan makan makanan berkolesterol tinggi akan membuat fungsi jantung terganggu. Kolesterol tinggi akan membuat tekanan darah, denyut nadi, kadar lemak total, kolesterol dan trigliserida menjadi tinggi.

Kolesterol yang tinggi di dalam tubuh akan menambah 5-10 tahun usia jantung menjadi lebih tua dari usia Anda sebenarnya.

2. Kelebihan berat badan
Kelebihan berat badan yang sudah masuk kategori obesitas akan membuat kerja jantung menjadi lebih berat. Obesitas menandakan adanya perlemakan hati yang menyebabkan kadar kolesterol sulit dikontrol.

Kelebihan berat badan bisa membuat usia jantung lebih tua 5-10 tahun dari usia yang sebenarnya.

3. Merokok
Merokok adalah kebiasaan yang sangat cepat merusak jantung. Molekul-molekul racun dalam rokok bisa mengikat darah yang ada di sekitarnya, sehingga memicu terjadinya penggumpalan darah yang sangat berisiko menyebabkan serangan jantung.

Kebiasaan merokok bisa membuat jantung Anda bertambah tua 20 tahun dari usia Anda.

4. Minum alkohol
Alkohol bisa meningkatkan tekanan darah sehingga beban jantung meningkat. Ketika tubuh mengalami keracunan alkohol, yang terjadi adalah alkohol menekan saraf-saraf yang mengendalikan tubuh seperti saraf jantung, paru dan otak dan menghentikan fungsinya.

Kebiasaan minum alkohol setiap hari akan membuat usia jantung bertambah tua 10-20 tahun dari usia Anda.

5. Stres

Pada saat orang mengalami stres, hipotalamus dalam otak akan memicu hormon stres, baik yang adrenalin maupun non-adrenalin, yang kemudian akan memicu peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah yang mengakibatkan cedera pada dinding arteri dan pembentukan bekuan dalam pembuluh darah, serta aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah arteri).

Stres membuat tekanan terhadap jantung juga meningkat dan stres akan membuat usia jantung lebih tua 15-20 tahun dari usia Anda.

Hidup sehat


Menghindari 5 kebiasaan buruk di atas adalah cara untuk tetap menjaga usia jantung tetap sama atau lebih muda dari usia Anda.

Pastikan untuk mengurangi garam, banyak makan buah dan sayuran serta aktif bergerak untuk membuat jantung tetap awet muda.
Baca Selengkapnya - Seberapa Tua Umur Jantung Anda?